• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Welcome to My Personal Blog | Look, Read and Listen, Try to Understand, Write and Doing Now | Impossible is Nothing!

Selasa, 30 April 2019

Valar Morghulis atau Valar Dohaeris?

20.35 // by Catatanlukmanhadi.blogspot.co.id // // No comments

Valar Morghulis atau Valar Dohaeris?
Oleh : Lukman Hadi



Bagi pecinta Film Serial Game of Thrones pasti sudah tidak asing dengan judul di atas. Dua istilah yang paling populer dalam serial Game of Thrones tersebut adalah bahasa High Valyrian. Bahasa ini sebenarnya tidak benar-benar ada, melainkan hanya hasil rekaan untuk cerita dalam film. Bahasa High Valyrian sendiri diciptakan oleh David J. Peterson, yang merupakan spesialis bahasa dalam serial Game of Thrones. Dia mengembangkan bahasa High Valyrian dari dua suku kata: Valar Morghulis (All Men must die) dan Valar Dohaeris (All men must serve). Peterson juga yang menciptakan bahasa Dothraki yang juga dipakai dalam serial yang sama.

Film serial Game of Thrones (Perebutan Tahta) adalah film drama fantasi yang ditayangkan di stasiun televisi HBO (Home Box Office). Film Game of Thrones diangkat dari Novel berjudul 'A Song of Ice and Fire' karya George R. R. Martin yang menceritakan kehidupan beberapa Kerajaan di Benua fiksi Westeros dan Essos. Game of Thrones begitu digemari berbagai kalangan, bahkan mantan Presiden Amerika, Barack Obama pun dibuat penasaran, lantaran memiliki jalan cerita yang berbeda dari drama kolosal pada umumnya. Serial ini memiliki tujuh season yang sudah tayang dan season kedelapan telah dirilis pada 14 April 2019.

Saya mulai menggandrungi serial Game of Thrones sesaat setelah membaca berita bahwa Presiden Jokowi mendapat apresiasi yang luar biasa dari para pemimpin dunia saat memberikan sambutan dalam acara Plenary Session IMF-World Bank, di Nusa Dua Hall, Nusa Dua, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018. Presiden Jokowi menganalogikan hubungan ekonomi antarnegara maju dan berkembang saat ini ibarat film serial Game of Thrones.

“Perang dagang semakin marak dan inovasi teknologi mengakibatkan banyak industri terguncang. Negara-negara yang tengah tumbuh juga sedang mengalami tekanan pasar yang besar. Dengan banyaknya masalah perekonomian dunia, sudah cukup bagi kita untuk mengatakan bahwa: winter is coming," ujar Jokowi. Saya pun terpukau.

Saya kira cukup menarik menganalogikan hubungan ekonomi antarnegara maju dan berkembang saat ini dengan film serial Game of Thrones. Dan, jujur saja, saya terinspirasi. Saya mencoba menganalogikan situasi kita setelah Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2019 ini selayaknya serial Game of Thrones. Terutama menyangkut bagaimana kita menyikapi hasil Pilpres tersebut.

Pendukung siapa pun kita saat Pilpres kemarin, sepanjang kapasitas kita sebagai masyarakat umum, maka idealnya saat ini sudah tidak lagi relevan memperjuangkannya mati-matian. Kecuali secara struktural kita tercatat menjadi anggota sebuah Partai. Ada sumpah, janji setia, tugas dan tanggung jawab yang harus diemban. Sebagai masyarakat umum, seharusnya kita bisa saling menahan diri dan kembali menjadi satu, Bangsa Indonesia. Tetapi, tentu saja pemikiran dan sikap ideal seperti itu selalu sulit untuk diseragamkan.

Saya tidak ingat lagi kapan bermula, hingga detik ini, dan entah sampai kapan, masih ada saja pendukung dari kedua pasangan calon, terutama di ranah media sosial, yang saling mengejek, menghina, menyebarkan berita-berita bohong (hoax), saling klaim kemenangan dan banyak lagi. Seolah-olah mereka sangat menikmati. Tanpa disadari, ada ancaman yang sangat serius menyangkut kita sebagai satu Bangsa, yakni: Disintegrasi!

Sama persis dengan cerita dalam serial Game of Thrones, di mana Seven Kingdom yang awalnya satu Bangsa, saling berperang satu dengan lainnya untuk memperebutkan The Iron Thrones. Hingga tanpa mereka sadari, ada ancaman yang lebih serius yang disebut Winter is Coming. Saat di mana musim dingin terjadi jauh lebih lama dari biasanya. Saat itulah, akan muncul serangan dari pasukan White Walkers (para mayat hidup) yang dipimpin oleh The Night King.

Memang benar bahwa setiap orang akan selalu memiliki kecenderungan politis terhadap salah satu pasangan calon, dan seharusnya demikian. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Drs. H. Mas Tamyiz, M.Si, salah satu tokoh masyarakat di Desa saya pada Pemilihan Kepala Desa Tahun 2004 silam. Akan tetapi menjadi masalah kemudian, jika kecenderungan politis tersebut diaktualisasikan secara berlebihan, hingga mereduksi keutuhan kita sebagai satu Bangsa.

Dengan analogi film serial Game of Thrones, bagi saya, saat ini kita hanya memiliki dua pilihan sikap: Valar Morghulis (All Men must die) atau Valar Dohaeris (All Men must serve). Jika kita masih saja tidak bisa menahan diri, menjelek-jelekkan dan menghina pasangan calon yang tidak sesuai dengan pilihan kita, memusuhi orang-orang yang berbeda pilihan politik dengan kita, ikut menyebarkan hoax, bahkan jika nanti kita tidak percaya keputusan sengketa Pemilu oleh Mahkamah Konstitusi, lalu kita melakukan aksi People Power, maka akan terjadi perang saudara, akan terjadi Valar Morghulis.

Atau kita memilih bersikap sebaliknya. Saling menahan diri, saling menghargai sesama walau pun berbeda pilihan politik, selektif dalam menerima dan membagikan informasi berdasarkan sumber dan data yang valid, menghargai dan menghormati keputusan KPU dan MK nantinya, serta mengakui dan menghormati siapa pun Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang telah ditetapkan secara konstitusional, maka yang terjadi adalah Valar Dohaeris.

Saya sendiri, tentu saja memiliki kecenderungan politis terhadap salah satu pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden. Tetapi saya meyakini bahwa, hal paling heroik yang bisa kita perbuat saat ini adalah dengan menahan diri, saling menghargai sesama dan menghormati siapa pun Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang nantinya ditetapkan secara konstitusional.

Salam Persatuan Indonesia
Selamat Hari Buruh
Jepang, 1 Mei 2019


Kamis, 03 Januari 2019

Desa Blimbingsari Darurat Keamanan atau Sampah?

05.26 // by Catatanlukmanhadi.blogspot.co.id // // No comments

Desa Blimbingsari Darurat Keamanan atau Sampah?
Oleh : Lukman Hadi



Kemarin, saya ditanya oleh salah satu teman di Desa. Pertanyaannya kurang lebih begini: Dengan Dana Desa yang kabarnya sudah mencapai 1, (satu koma) sekian Milyar, bagaimana mungkin dalam satu tahun tidak ada pembangunan infrastruktur? Lalu Dana itu dihabiskan untuk apa? Saya spontan saja menjawab sambil bercanda: Jika Sampean tanya ke saya, lha saya tanya siapa? Artinya, yang ditanya tidak lebih tau dari yang bertanya. Bagaimana mungkin seseorang yang secara geopolitik berada pada posisi yang sangat jauh, bisa lebih tau persoalan Desa dari pada yang sehari-hari bermukim di Desa?

Karena secara geopolitik posisi saya sama sekali tidak menguntungkan, maka akan menjadi sesuatu yang subyektif dan tidak proporsional jika saya memaksakan diri untuk menilai kinerja Pemerintah Desa. Karenanya, saya akan menjawab secara normatif saja. Bahwa minimnya (untuk tidak mengatakan tidak ada) pembangunan infrastruktur atau fisik untuk mendukung usaha-usaha menyejahterakan masyarakat Desa, tidak berarti bahwa ada dugaan penyalahgunaan Anggaran Dana Desa dan/atau Dana Desa. Hal itu sama saja dengan Anda menyatakan bahwa Salju itu jika dipegang lembut bagaikan kapas, hanya berdasar informasi dari internet. Padahal untuk bisa menyatakan hal itu, Anda seharusnya sudah benar-benar memastikan bahwa Anda memiliki pengalaman empiris sebagai bukti Anda pernah memegang salju secara real.

Pembangunan infrastruktur atau fisik di Desa hanya satu dari sekian banyak pos pengeluaran dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDesa). Selain pengeluaran untuk pembangunan fisik, ada pengeluaran-pengeluaran lain sesuai bidang-bidang yang ada, antara lain: 1) Bidang Penyelenggaraan Pemerintah Desa, meliputi Penghasilan Tetap dan Tunjangan Aparatur Pemerintah Desa, Belanja Pegawai, Tambahan Penghasilan Aparatur Pemerintah Desa, Tunjangan BPD, Operasional Pemerintah Desa, Operasional BPD, Operasional RT/RW, dan Kegiatan-kegiatan Desa; 2) Bidang Pelaksanaan Pembangunan Desa -di Bidang inilah pembangunan infrastruktur atau fisik dimasukkan, seperti Pembangunan Pos Kamling atau Pos Ronda yang saat ini sedang dalam proses pelaksanaan, Pemugaran Rumah Tidak Layak Huni, Pembangunan Kantor Desa dan Pembangunan fisik lainnya; 3) Bidang Pembinaan Kemasyarakatan, meliputi kegiatan Sosialisasi Bahaya Narkoba, Miras dan lainnya; 4) Bidang Pemberdayaan Masyarakat, meliputi Kegiatan Pelatihan Aparatur Pemerintah Desa, Kegiatan Pelatihan Pengurus Lembaga Desa, Kegiatan TP PKK Desa, dan Kegiatan Karang Taruna Desa; dan 5) Bidang Tak Terduga.

Menurut saya, Pemerintah Desa sudah paham betul bahwa penggunaan Dana Desa sebesar 20% harus dialokasikan untuk kegiatan padat karya atau pembangunan infrastruktur sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo. Nyatanya, mereka sedang melaksanakan pembangunan Pos Kamling di setiap Dusun dan Pemugaran Rumah Tidak Layak Huni. Yang jadi persoalan adalah mungkin saja terjadi irasionalisasi anggaran atau disparitas antara besarnya anggaran dengan volume pembangunannya. Saya dan Anda tentu hanya bisa menduga saja jika tidak membaca dan mempelajari RAPBDes dan APBDes.

Pertanyaannya kemudian adalah, apakah mungkin masyarakat awam meminta salinan RAPBDes dan APBDes, baik kepada BPD maupun Kepala Desa? Hehehe, percayalah Kawan, Anda akan distigmatisasi sebagai Oknum Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) jika benar-benar melakukannya. Lebih jauh, setiap gerak-gerik Anda dan kawan-kawan Anda akan mendapatkan perhatian berlebihan dari mereka yang tidak suka. Seolah-olah, Anda itu Spartacus bersama para Gladiator dan budak-budak yang akan menghancurkan Romawi. Padahal sebagai masyarakat Desa, siapa saja berhak mendapatkan informasi yang utuh mengenai setiap kebijakan pembangunan di Desa. Hal itu sebagai bentuk kontrol dan pengawasan dari masyarakat Desa. Seperti yang tersirat dalam UU No. 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik.

Blimbingsari Darurat Sampah

Saya tidak ingin membahas lebih dalam mengenai persoalan anggaran, karena itu wilayah yang sangat sensitiv. Saya lebih tertarik untuk membahas kebijakan pembangunan, skala prioritas pembangunan, pemberdayaan masyarakat dan usaha peningkatan Pendapatan Asli Desa melalui BUMDes.

Menurut hemat saya, kebutuhan akan solusi pembuangan sampah rumah tangga dan UMKM di Pantai di Desa Blimbingsari lebih mendesak untuk segera dicarikan solusinya dari pada kebutuhan akan Pos Kamling. Tentu masih segar dalam ingatan kita musibah hujan lebat hingga selokan di depan rumah warga meluap dan menelan korban jiwa pada September 2016. Benar penyebab utamanya adalah alih fungsi sawah dan sungai menjadi Bandara Banyuwangi dan Balai Pendidikan dan Pelatihan Penerbang Banyuwangi (BP3B), sehingga memaksa aliran sungai dari arah Desa Watukebo dialirkan melalui selokan depan rumah warga. Hal itu diperparah dengan kebiasaan warga membuang sampah rumah tangga ke selokan tersebut karena tidak ada solusi bagi warga di mana harus membuangnya.

Usaha-usaha diplomasi guna meminta pertanggung jawaban pihak pengelola Bandara Banyuwangi dan BP3B sudah dilakukan. Mulai berkirim surat ke pihak terkait, ke Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, hingga melakukan hearing dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Saya masih ingat Tim yang dikirim terdiri dari 5 orang: Kepala Desa, Kaur Kesra, perwakilan BPD yakni H. Mas Tamyiz, M.Si dan H. Imam Najeh, M.Ag., serta perwakilan LPMD yakni Shofyan Ahda Alex, SH. Namun hingga sekarang hasilnya tetap nihil.

Kita juga akan sepakat bahwa yang dikeluhkan oleh para pengunjung Pantai Blimbingsari terutama adalah soal kebersihan pantainya, selain harga ikan bakarnya yang dirasa kemahalan dan fasilitas publiknya yang masih terbatas. Tidak adil jika kita hanya menyalahkan para pelaku usaha di sana yang membuang sampah ke pantai tanpa mempertanyakan peran dari Pemerintah Desa. Lagi-lagi para pelaku usaha di pantai melakukannya karena tidak tau lagi mesti membuang sampah di mana.

Coba saja kita komparasikan dengan kebutuhan akan pembangunan fasilitas publik berupa Pos Kamling. Hal ini untuk mengetahui pembangunan mana yang mestinya diprioritaskan. Beberapa bulan lalu, saya mendengar kabar beberapa toko di Dusun Krajan kehilangan satu dua Gas Elpijinya secara bergantian. Pertanyaannya, mungkinkah tindakan kriminal yang tergolong Tindak Pidana Ringan seperti itu dilakukan oleh orang dewasa, profesional dan dari Desa lain? Saya tidak yakin. Artinya, tindakan kriminal semacam itu tidak terlalu membutuhkan atensi berlebih hingga harus membuat Pos Kamling yang hanya satu unit di setiap Dusun. Tidak juga berarti harus dibiarkan begitu saja, kan. Kita hanya harus lebih waspada saja, terutama bagi para pemilik toko. Pada akhirnya bisa disimpulkan bahwa kebutuhan akan solusi pembuangan sampah lebih layak diprioritaskan dari pada kebutuhan akan pembangunan Pos Kamling. Artinya, Desa Blimbingsari sebenarnya darurat sampah, bukan darurat keamanan.

Tawaran Solusi

Sejak Pemerintahan Kepala Desa yang lalu, saya bersama beberapa kawan getol untuk menyuarakan perihal solusi pembuangan sampah. Bagi kami saat itu mudah saja, Pemerintah Desa tinggal membuat surat permohonan bantuan pengambilan sampah kepada Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Kabupaten Banyuwangi untuk mengambil dan mengangkut sampah dari Desa Blimbingsari. Bisa setiap 2 atau 3 hari sekali. Jika permohonan tersebut disetujui DKP, barulah Pemerintah Desa mengangkat Tenaga Kebersihan yang bertugas mengambil sampah tersebut dari rumah ke rumah.

Pemerintah Desa saat itu bukan tidak melaksanakan gagasan tersebut, mereka melakukannya. Hanya saja muncul masalah baru ketika pihak DKP meminta Pemerintah Desa terlebih dahulu harus menyiapkan Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS Sementara) di Desa. Saat mencari lahan untuk dijadikan TPS Sementara inilah Pemerintah Desa tidak berhasil. Akhirnya rencana terkait pembuangan sampah tersebut tidak terealisasi.

Sejak pergantian Kepala Desa yang sekarang dijabat oleh Bapak Muhbiruddin, yang tidak terasa sudah memasuki tahun kedua kepemimpinannya (dilantik menjadi Kepala Desa Blimbingsari pada tanggal 11 Desember 2017), saya sendiri sudah berada di perantauan sehingga belum pernah sekalipun berdiskusi tentang persoalan Desa.

Siang tadi saya mendapat kabar bahwa di Desa Watukebo yang berbatasan dengan Desa Patoman terdapat TPS. Jika kabar itu benar, maka mudah bagi Pemerintah Desa untuk menyelesaikan masalah sampah ini. Tinggal anggarkan dalam RAPBDes untuk pembelian satu atau dua unit sepeda Viar, Tossa atau sejenisnya untuk keperluan mengangkut sampah, sekaligus anggaran untuk gaji petugas kebersihannya. Tapi jika kabar itu tidak benar, maka Pemerintah Desa harus mencari solusi di mana lokasi TPS Sementara itu dibangun agar masalah sampah di Desa Blimbingsari bisa teratasi.

Jepang, 3 Januari 2019

Rabu, 05 April 2017

Puisi Patoman Bali Van Java

01.46 // by Catatanlukmanhadi.blogspot.co.id // // No comments

Patoman, Bali Van Java
Karya : Lukman Hadi



Mamang, belum semaju Desa tetangga
Memang, tidak sekaya Desa tetangga
Memang, tidak seberuntung Desa tetangga
Memang, belum seperti Desa tetangga

Tapi, coba lihatlah potensi yang kami punya
Pohon Kelapa tumbuh di mana-mana
Tanaman Kopi dan Kakao banyak jumlahnya
Lokasi tepat bagi investor mendirikan pabrik kopi, minyak dan gula

Peternakan Ayam, Kambing dan Sapi hampir merata
Peternakan Babi juga ada
Hamparan sawah di sebelah timur pun masih banyak jumlahnya
Cocok dijadikan Pusat Pertanian Terpadu kiranya

Jika Desa tetangga terkenal akan ikan bakarnya
maka, inilah Pantai kami dengan keindahan alamnya
Ombaknya yang relatif tenang, cocok untuk acara Mancing Mania
Rindangnya pepohonan Kelapa di pinggir pantai, pas sekali untuk bersantai bersama keluarga
Ikan bakarnya pun, hmm, tak kalah lezatnya

Industri Gula Merah Non Sulfit, Kami punya
Industri Galangan Kapal, Kami ada
UKM Ukiran Kayu, ah Kami ahlinya
Kesenian Janger, hmm, itu kan Kami jagonya
Kesenian Jaran Kencak, ladalah, itu mah Kami gudangnya

Desa Patoman layak jadi Desa Wisata
Bupati Banyuwangi menjulukinya sebagai Patoman The Little Balinese in Java
Sedang Kami menjulukinya sebagai Patoman Bali Van Java
Bukan tanpa alasan tentu saja

Dusun Patoman Tengah lah yang jadi Primadona
Kampung Balian Kami menyebutnya
Di sana dihuni warga keturunan Bali berjumlah kurang lebih 750 jiwa
Yang masih menjunjung tinggi agama, adat dan budaya nenek moyang mereka

Dan, satu lagi potensi Desa Patoman yang paling utama
Kuat sekali dan sudah sejak lama
Yang akan terus kami jaga dan Kami bina
Adalah terjalinnya kerukunan antar umat beragama

Akhirnya, Saya yakin dan percaya
Pemerintah Desa Patoman kini dan selanjutnya
Akan mendayagunakan potensi itu menjadi nyata
Demi masyarakat Patoman yang lebih sejahtera

Patoman, 30 Agustus 2014
 

Minggu, 09 Oktober 2016

Bik Wa

07.35 // by Catatanlukmanhadi.blogspot.co.id // // 1 comment



Bik Wa
Oleh : Lukman Hadi

Rabu, 21 September 2016

News

18.08 // by Catatanlukmanhadi.blogspot.co.id // // 1 comment

BERITA