Selamat Hari Perdamaian Internasional
(Belajar Toleransi dari Desa Patoman)
(Belajar Toleransi dari Desa Patoman)
Hari Perdamaian
Internasional (bahasa Inggris: International Day of Peace), terkadang
secara tidak resmi ada yang menyebutnya Hari Perdamaian Dunia (World
Peace Day), diperingati setiap tahun pada tanggal 21 September.
Peringatan ini didedikasikan demi perdamaian
dunia, dan secara khusus demi berakhirnya perang
dan kekerasan,
misalnya yang mungkin disebabkan oleh suatu gencatan
senjata sementara di zona pertempuran
untuk akses bantuan kemanusiaan. Hari Perdamaian
Internasional pertama kali diperingati tahun 1982, dan dipertahankan
oleh banyak negara, kelompok politik, militer, dan masyarakat. Pada tahun 2013, untuk pertama
kalinya, hari peringatan ini didedikasikan oleh Sekretaris Jenderal PBB untuk pendidikan perdamaian,
sebagai sarana pencegahan yang penting untuk mengurangi peperangan yang
berkelanjutan (id.wikipedia.org).
Dalam ranah Internasional,
boleh jadi isu utamanya adalah peperangan dan kekerasan yang terjadi terutama
di Timur Tengah dan Afrika. Tetapi dalam lingkup Indonesia, maka isu yang harus
diwaspadai adalah intoleransi. Hal itu mengingat Indonesia terdiri dari beragam
Suku, Ras, Adat, Budaya dan Agama.
Tentunya masih segar dalam
ingatan Kita, atas terjadinya pembakaran oleh massa terhadap dua Wihara dan
lima Kelenteng yang terletak di Tanjung Balai, Medan, Sumatera Utara, pada
Jumat, 29 Juli 2016. Peristiwa itu dipicu permasalahan etnis akibat salah paham
yang terjadi diantara massa dan seorang penduduk keturunan Tionghoa. Juga
kejadian-kejadian serupa sebelumnya yang sering terjadi di Indonesia.
Seringkali, intoleransi keberagamaan menjadi penyebab terjadinya kekerasan,
yang dapat meluas menjadi konflik sosial.
Sebenarnya, banyak juga
daerah-daerah di Indonesia yang memiliki sejarah toleransi antarumat beragama
yang baik. Bahkan, beberapa diantaranya telah ditetapkan sebagai daerah
percontohan toleransi umat beragama di Indonesia. Bagi Kita yang berada di
Banyuwangi, tidak ada salahnya jika melihat praktek toleransi keberagamaan di
Desa Patoman, Kecamatan Rogojampi.
Belajar
Toleransi dari Desa Patoman
Patoman adalah sebuah Desa di
Kecamatan Rogojampi yang bersebelahan dengan Desa Blimbingsari. Dulunya, Desa
Patoman dan Blimbingsari adalah satu Desa yaitu Desa Blimbingsari. Pada tahun
2002, diadakan pemekaran wilayah Desa Blimbingsari. Sejak itulah Desa Patoman
berdiri dan memiliki Pemerintahan Desa sendiri.
Berdasarkan data dari Badan
Pusat Statistik Kabupaten Banyuwangi Tahun 2015, Desa Patoman memiliki luas
wilayah 4,99 Km2, yang terdiri dari 4 (empat) Dusun: Dusun Patoman Barat,
Tengah, Timur dan Blibis dengan jumlah penduduk sebanyak 4.677 Jiwa. Dari total
jumlah penduduk tersebut, terdapat 712 Jiwa yang memeluk Agama Hindu. Uniknya,
mereka tidak menyebar ke seluruh Dusun, tapi hanya mendiami satu Dusun yaitu
Patoman Tengah. Dengan pola hidup berkelompok seperti itu, maka praktis mereka
dengan mudah dapat mempertahankan adat, budaya, bahasa bahkan gaya arsitektur
bangunan rumah peninggalan nenek moyang mereka. Sama persis dengan masyarakat
Hindu di Bali. Maka, jika di Bali terdapat Kampung Jawa, Kami menyebut Kampung
Kami, Desa Patoman sebagai Bali Van Java.
Ada satu ritual dalam Agama
Hindu yang selalu dilakukan setiap tahun oleh warga Dusun Patoman Tengah Desa
Patoman, yaitu Pawai Ogoh-ogoh dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi. Pelaksanaannya
selalu ditunggu-tunggu dan dilihat oleh ratusan orang dari Kecamatan Rogojampi
dan sekitarnya. Ogoh-ogoh tersebut diarak keliling Desa tanpa merasa khawatir akan
adanya gangguan dari warga yang berbeda suku dan agama.
Satu hal lagi yang menarik
yang sering dilakukan di Desa Patoman dalam menjaga kerukunan atarumat
beragama, yaitu doa bersama lintas agama, Islam dan Hindu. Hampir dalam setiap kegiatan
musyawarah yang dilaksanakan di Kantor Kepala Desa Patoman, setiap agama selalu
diberi kesempatan untuk memanjatkan doa penutup sesuai dengan agamanya
masing-masing. Pada saat umat Islam memanjatkan doa, umat Hindu menundukkan
kepala dan mendengarkan dengan seksama, begitu pun sebaliknya.
Semua itu terjadi karena
masyarakat Desa Patoman telah lama memiliki toleransi keberagamaan yang tinggi,
penerimaan terhadap perbedaan dan menyadari akan pentingnya toleransi bagi
keberlangsungan kehidupan sosial atas dasar kekeluargaan dan kemanusiaan untuk
perdamaian.
Akhirnya, Selamat Hari
Perdamaian Internasional. Semoga kerukunan antarumat beragama di Desa Patoman
dapat menginspirasi Kita untuk melakukan hal yang sama demi perdamaian.






0 komentar:
Posting Komentar