• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Selasa, 20 September 2016

Papers

19.34 // by Catatanlukmanhadi.blogspot.co.id // // No comments

Selamat Hari Perdamaian Internasional
(Belajar Toleransi dari Desa Patoman)




Hari Perdamaian Internasional (bahasa Inggris: International Day of Peace), terkadang secara tidak resmi ada yang menyebutnya Hari Perdamaian Dunia (World Peace Day), diperingati setiap tahun pada tanggal 21 September. Peringatan ini didedikasikan demi perdamaian dunia, dan secara khusus demi berakhirnya perang dan kekerasan, misalnya yang mungkin disebabkan oleh suatu gencatan senjata sementara di zona pertempuran untuk akses bantuan kemanusiaan. Hari Perdamaian Internasional pertama kali diperingati tahun 1982, dan dipertahankan oleh banyak negara, kelompok politik, militer, dan masyarakat. Pada tahun 2013, untuk pertama kalinya, hari peringatan ini didedikasikan oleh Sekretaris Jenderal PBB untuk pendidikan perdamaian, sebagai sarana pencegahan yang penting untuk mengurangi peperangan yang berkelanjutan (id.wikipedia.org).
Dalam ranah Internasional, boleh jadi isu utamanya adalah peperangan dan kekerasan yang terjadi terutama di Timur Tengah dan Afrika. Tetapi dalam lingkup Indonesia, maka isu yang harus diwaspadai adalah intoleransi. Hal itu mengingat Indonesia terdiri dari beragam Suku, Ras, Adat, Budaya dan Agama.
Tentunya masih segar dalam ingatan Kita, atas terjadinya pembakaran oleh massa terhadap dua Wihara dan lima Kelenteng yang terletak di Tanjung Balai, Medan, Sumatera Utara, pada Jumat, 29 Juli 2016. Peristiwa itu dipicu permasalahan etnis akibat salah paham yang terjadi diantara massa dan seorang penduduk keturunan Tionghoa. Juga kejadian-kejadian serupa sebelumnya yang sering terjadi di Indonesia. Seringkali, intoleransi keberagamaan menjadi penyebab terjadinya kekerasan, yang dapat meluas menjadi konflik sosial.
Sebenarnya, banyak juga daerah-daerah di Indonesia yang memiliki sejarah toleransi antarumat beragama yang baik. Bahkan, beberapa diantaranya telah ditetapkan sebagai daerah percontohan toleransi umat beragama di Indonesia. Bagi Kita yang berada di Banyuwangi, tidak ada salahnya jika melihat praktek toleransi keberagamaan di Desa Patoman, Kecamatan Rogojampi.

Belajar Toleransi dari Desa Patoman
Patoman adalah sebuah Desa di Kecamatan Rogojampi yang bersebelahan dengan Desa Blimbingsari. Dulunya, Desa Patoman dan Blimbingsari adalah satu Desa yaitu Desa Blimbingsari. Pada tahun 2002, diadakan pemekaran wilayah Desa Blimbingsari. Sejak itulah Desa Patoman berdiri dan memiliki Pemerintahan Desa sendiri.
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Banyuwangi Tahun 2015, Desa Patoman memiliki luas wilayah 4,99 Km2, yang terdiri dari 4 (empat) Dusun: Dusun Patoman Barat, Tengah, Timur dan Blibis dengan jumlah penduduk sebanyak 4.677 Jiwa. Dari total jumlah penduduk tersebut, terdapat 712 Jiwa yang memeluk Agama Hindu. Uniknya, mereka tidak menyebar ke seluruh Dusun, tapi hanya mendiami satu Dusun yaitu Patoman Tengah. Dengan pola hidup berkelompok seperti itu, maka praktis mereka dengan mudah dapat mempertahankan adat, budaya, bahasa bahkan gaya arsitektur bangunan rumah peninggalan nenek moyang mereka. Sama persis dengan masyarakat Hindu di Bali. Maka, jika di Bali terdapat Kampung Jawa, Kami menyebut Kampung Kami, Desa Patoman sebagai Bali Van Java.
Ada satu ritual dalam Agama Hindu yang selalu dilakukan setiap tahun oleh warga Dusun Patoman Tengah Desa Patoman, yaitu Pawai Ogoh-ogoh dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi. Pelaksanaannya selalu ditunggu-tunggu dan dilihat oleh ratusan orang dari Kecamatan Rogojampi dan sekitarnya. Ogoh-ogoh tersebut diarak keliling Desa tanpa merasa khawatir akan adanya gangguan dari warga yang berbeda suku dan agama.
Satu hal lagi yang menarik yang sering dilakukan di Desa Patoman dalam menjaga kerukunan atarumat beragama, yaitu doa bersama lintas agama, Islam dan Hindu. Hampir dalam setiap kegiatan musyawarah yang dilaksanakan di Kantor Kepala Desa Patoman, setiap agama selalu diberi kesempatan untuk memanjatkan doa penutup sesuai dengan agamanya masing-masing. Pada saat umat Islam memanjatkan doa, umat Hindu menundukkan kepala dan mendengarkan dengan seksama, begitu pun sebaliknya.
Semua itu terjadi karena masyarakat Desa Patoman telah lama memiliki toleransi keberagamaan yang tinggi, penerimaan terhadap perbedaan dan menyadari akan pentingnya toleransi bagi keberlangsungan kehidupan sosial atas dasar kekeluargaan dan kemanusiaan untuk perdamaian.
Akhirnya, Selamat Hari Perdamaian Internasional. Semoga kerukunan antarumat beragama di Desa Patoman dapat menginspirasi Kita untuk melakukan hal yang sama demi perdamaian.


0 komentar:

Posting Komentar