Valar Morghulis atau Valar Dohaeris?
Oleh : Lukman Hadi
Bagi pecinta Film Serial Game of Thrones pasti sudah tidak asing dengan judul di atas. Dua istilah yang paling populer dalam serial Game of Thrones tersebut adalah bahasa High Valyrian. Bahasa ini sebenarnya tidak benar-benar ada, melainkan hanya hasil rekaan untuk cerita dalam film. Bahasa High Valyrian sendiri diciptakan oleh David J. Peterson, yang merupakan spesialis bahasa dalam serial Game of Thrones. Dia mengembangkan bahasa High Valyrian dari dua suku kata: Valar Morghulis (All Men must die) dan Valar Dohaeris (All men must serve). Peterson juga yang menciptakan bahasa Dothraki yang juga dipakai dalam serial yang sama.
Film serial Game of Thrones (Perebutan Tahta) adalah film drama fantasi yang ditayangkan di stasiun televisi HBO (Home Box Office). Film Game of Thrones diangkat dari Novel berjudul 'A Song of Ice and Fire' karya George R. R. Martin yang menceritakan kehidupan beberapa Kerajaan di Benua fiksi Westeros dan Essos. Game of Thrones begitu digemari berbagai kalangan, bahkan mantan Presiden Amerika, Barack Obama pun dibuat penasaran, lantaran memiliki jalan cerita yang berbeda dari drama kolosal pada umumnya. Serial ini memiliki tujuh season yang sudah tayang dan season kedelapan telah dirilis pada 14 April 2019.
Saya mulai menggandrungi serial Game of Thrones sesaat setelah membaca berita bahwa Presiden Jokowi mendapat apresiasi yang luar biasa dari para pemimpin dunia saat memberikan sambutan dalam acara Plenary Session IMF-World Bank, di Nusa Dua Hall, Nusa Dua, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018. Presiden Jokowi menganalogikan hubungan ekonomi antarnegara maju dan berkembang saat ini ibarat film serial Game of Thrones.
“Perang dagang semakin marak dan inovasi teknologi mengakibatkan banyak industri terguncang. Negara-negara yang tengah tumbuh juga sedang mengalami tekanan pasar yang besar. Dengan banyaknya masalah perekonomian dunia, sudah cukup bagi kita untuk mengatakan bahwa: winter is coming," ujar Jokowi. Saya pun terpukau.
Saya kira cukup menarik menganalogikan hubungan ekonomi antarnegara maju dan berkembang saat ini dengan film serial Game of Thrones. Dan, jujur saja, saya terinspirasi. Saya mencoba menganalogikan situasi kita setelah Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2019 ini selayaknya serial Game of Thrones. Terutama menyangkut bagaimana kita menyikapi hasil Pilpres tersebut.
Pendukung siapa pun kita saat Pilpres kemarin, sepanjang kapasitas kita sebagai masyarakat umum, maka idealnya saat ini sudah tidak lagi relevan memperjuangkannya mati-matian. Kecuali secara struktural kita tercatat menjadi anggota sebuah Partai. Ada sumpah, janji setia, tugas dan tanggung jawab yang harus diemban. Sebagai masyarakat umum, seharusnya kita bisa saling menahan diri dan kembali menjadi satu, Bangsa Indonesia. Tetapi, tentu saja pemikiran dan sikap ideal seperti itu selalu sulit untuk diseragamkan.
Saya tidak ingat lagi kapan bermula, hingga detik ini, dan entah sampai kapan, masih ada saja pendukung dari kedua pasangan calon, terutama di ranah media sosial, yang saling mengejek, menghina, menyebarkan berita-berita bohong (hoax), saling klaim kemenangan dan banyak lagi. Seolah-olah mereka sangat menikmati. Tanpa disadari, ada ancaman yang sangat serius menyangkut kita sebagai satu Bangsa, yakni: Disintegrasi!
Sama persis dengan cerita dalam serial Game of Thrones, di mana Seven Kingdom yang awalnya satu Bangsa, saling berperang satu dengan lainnya untuk memperebutkan The Iron Thrones. Hingga tanpa mereka sadari, ada ancaman yang lebih serius yang disebut Winter is Coming. Saat di mana musim dingin terjadi jauh lebih lama dari biasanya. Saat itulah, akan muncul serangan dari pasukan White Walkers (para mayat hidup) yang dipimpin oleh The Night King.
Memang benar bahwa setiap orang akan selalu memiliki kecenderungan politis terhadap salah satu pasangan calon, dan seharusnya demikian. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Drs. H. Mas Tamyiz, M.Si, salah satu tokoh masyarakat di Desa saya pada Pemilihan Kepala Desa Tahun 2004 silam. Akan tetapi menjadi masalah kemudian, jika kecenderungan politis tersebut diaktualisasikan secara berlebihan, hingga mereduksi keutuhan kita sebagai satu Bangsa.
Dengan analogi film serial Game of Thrones, bagi saya, saat ini kita hanya memiliki dua pilihan sikap: Valar Morghulis (All Men must die) atau Valar Dohaeris (All Men must serve). Jika kita masih saja tidak bisa menahan diri, menjelek-jelekkan dan menghina pasangan calon yang tidak sesuai dengan pilihan kita, memusuhi orang-orang yang berbeda pilihan politik dengan kita, ikut menyebarkan hoax, bahkan jika nanti kita tidak percaya keputusan sengketa Pemilu oleh Mahkamah Konstitusi, lalu kita melakukan aksi People Power, maka akan terjadi perang saudara, akan terjadi Valar Morghulis.
Atau kita memilih bersikap sebaliknya. Saling menahan diri, saling menghargai sesama walau pun berbeda pilihan politik, selektif dalam menerima dan membagikan informasi berdasarkan sumber dan data yang valid, menghargai dan menghormati keputusan KPU dan MK nantinya, serta mengakui dan menghormati siapa pun Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang telah ditetapkan secara konstitusional, maka yang terjadi adalah Valar Dohaeris.
Saya sendiri, tentu saja memiliki kecenderungan politis terhadap salah satu pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden. Tetapi saya meyakini bahwa, hal paling heroik yang bisa kita perbuat saat ini adalah dengan menahan diri, saling menghargai sesama dan menghormati siapa pun Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang nantinya ditetapkan secara konstitusional.
Salam Persatuan Indonesia
Selamat Hari Buruh
Jepang, 1 Mei 2019
Oleh : Lukman Hadi
Film serial Game of Thrones (Perebutan Tahta) adalah film drama fantasi yang ditayangkan di stasiun televisi HBO (Home Box Office). Film Game of Thrones diangkat dari Novel berjudul 'A Song of Ice and Fire' karya George R. R. Martin yang menceritakan kehidupan beberapa Kerajaan di Benua fiksi Westeros dan Essos. Game of Thrones begitu digemari berbagai kalangan, bahkan mantan Presiden Amerika, Barack Obama pun dibuat penasaran, lantaran memiliki jalan cerita yang berbeda dari drama kolosal pada umumnya. Serial ini memiliki tujuh season yang sudah tayang dan season kedelapan telah dirilis pada 14 April 2019.
Saya mulai menggandrungi serial Game of Thrones sesaat setelah membaca berita bahwa Presiden Jokowi mendapat apresiasi yang luar biasa dari para pemimpin dunia saat memberikan sambutan dalam acara Plenary Session IMF-World Bank, di Nusa Dua Hall, Nusa Dua, Bali, Jumat, 12 Oktober 2018. Presiden Jokowi menganalogikan hubungan ekonomi antarnegara maju dan berkembang saat ini ibarat film serial Game of Thrones.
“Perang dagang semakin marak dan inovasi teknologi mengakibatkan banyak industri terguncang. Negara-negara yang tengah tumbuh juga sedang mengalami tekanan pasar yang besar. Dengan banyaknya masalah perekonomian dunia, sudah cukup bagi kita untuk mengatakan bahwa: winter is coming," ujar Jokowi. Saya pun terpukau.
Saya kira cukup menarik menganalogikan hubungan ekonomi antarnegara maju dan berkembang saat ini dengan film serial Game of Thrones. Dan, jujur saja, saya terinspirasi. Saya mencoba menganalogikan situasi kita setelah Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden Tahun 2019 ini selayaknya serial Game of Thrones. Terutama menyangkut bagaimana kita menyikapi hasil Pilpres tersebut.
Pendukung siapa pun kita saat Pilpres kemarin, sepanjang kapasitas kita sebagai masyarakat umum, maka idealnya saat ini sudah tidak lagi relevan memperjuangkannya mati-matian. Kecuali secara struktural kita tercatat menjadi anggota sebuah Partai. Ada sumpah, janji setia, tugas dan tanggung jawab yang harus diemban. Sebagai masyarakat umum, seharusnya kita bisa saling menahan diri dan kembali menjadi satu, Bangsa Indonesia. Tetapi, tentu saja pemikiran dan sikap ideal seperti itu selalu sulit untuk diseragamkan.
Saya tidak ingat lagi kapan bermula, hingga detik ini, dan entah sampai kapan, masih ada saja pendukung dari kedua pasangan calon, terutama di ranah media sosial, yang saling mengejek, menghina, menyebarkan berita-berita bohong (hoax), saling klaim kemenangan dan banyak lagi. Seolah-olah mereka sangat menikmati. Tanpa disadari, ada ancaman yang sangat serius menyangkut kita sebagai satu Bangsa, yakni: Disintegrasi!
Sama persis dengan cerita dalam serial Game of Thrones, di mana Seven Kingdom yang awalnya satu Bangsa, saling berperang satu dengan lainnya untuk memperebutkan The Iron Thrones. Hingga tanpa mereka sadari, ada ancaman yang lebih serius yang disebut Winter is Coming. Saat di mana musim dingin terjadi jauh lebih lama dari biasanya. Saat itulah, akan muncul serangan dari pasukan White Walkers (para mayat hidup) yang dipimpin oleh The Night King.
Memang benar bahwa setiap orang akan selalu memiliki kecenderungan politis terhadap salah satu pasangan calon, dan seharusnya demikian. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Drs. H. Mas Tamyiz, M.Si, salah satu tokoh masyarakat di Desa saya pada Pemilihan Kepala Desa Tahun 2004 silam. Akan tetapi menjadi masalah kemudian, jika kecenderungan politis tersebut diaktualisasikan secara berlebihan, hingga mereduksi keutuhan kita sebagai satu Bangsa.
Dengan analogi film serial Game of Thrones, bagi saya, saat ini kita hanya memiliki dua pilihan sikap: Valar Morghulis (All Men must die) atau Valar Dohaeris (All Men must serve). Jika kita masih saja tidak bisa menahan diri, menjelek-jelekkan dan menghina pasangan calon yang tidak sesuai dengan pilihan kita, memusuhi orang-orang yang berbeda pilihan politik dengan kita, ikut menyebarkan hoax, bahkan jika nanti kita tidak percaya keputusan sengketa Pemilu oleh Mahkamah Konstitusi, lalu kita melakukan aksi People Power, maka akan terjadi perang saudara, akan terjadi Valar Morghulis.
Atau kita memilih bersikap sebaliknya. Saling menahan diri, saling menghargai sesama walau pun berbeda pilihan politik, selektif dalam menerima dan membagikan informasi berdasarkan sumber dan data yang valid, menghargai dan menghormati keputusan KPU dan MK nantinya, serta mengakui dan menghormati siapa pun Presiden dan Wakil Presiden terpilih yang telah ditetapkan secara konstitusional, maka yang terjadi adalah Valar Dohaeris.
Saya sendiri, tentu saja memiliki kecenderungan politis terhadap salah satu pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden. Tetapi saya meyakini bahwa, hal paling heroik yang bisa kita perbuat saat ini adalah dengan menahan diri, saling menghargai sesama dan menghormati siapa pun Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia yang nantinya ditetapkan secara konstitusional.
Salam Persatuan Indonesia
Selamat Hari Buruh
Jepang, 1 Mei 2019






