• LinkedIn
  • Join Us on Google Plus!
  • Subcribe to Our RSS Feed

Minggu, 09 Oktober 2016

Bik Wa

07.35 // by Catatanlukmanhadi.blogspot.co.id // // 1 comment



Bik Wa
Oleh : Lukman Hadi



      Sinar Mentari masih cukup terik, meski waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Suara Adzan Ashar sedang berkumandang bersahutan, ketika Bik Wa mulai berangkat kerja berjualan jajanan tradisional keliling Kampung.
Wa, begitu dia biasa disapa oleh warga Dusun Krajan, Desa Blimbingsari. Aku tidak tahu pasti siapa nama lengkapnya, tapi jelas bukan Marwah Daud Ibrahim, seperti nama tokoh yang saat ini sedang menjadi perbincangan hangat publik nasional. Umurnya sekira 60an tahun, sudah cukup tua untuk sekedar berjualan jajanan tradisional keliling kampung. Dengan tinggi badan yang kurang lebih hanya 115 cm, dia terlihat sangat mungil saat harus membawa baskom besar berisi jajanan tradisional yang dia jajakan di atas kepalanya.
Bik Wa harus hidup sebatangkara karena tak punya siapa-siapa. Entahlah, dulu dia pernah menikah atau dia masih perawan hingga setua ini, aku benar-benar tidak ingin tahu hal itu. Yang pasti, karena hidup sendiri, Bik Wa harus mencari nafkah sendiri hampir setiap hari untuk memastikan esok dapat makan. Meski pun, untuk orang tua seumuran dia, sudah sepantasnya hari-harinya dihabiskan dengan berdiam diri menikmati masa tua di rumah dan memperbanyak ibadah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tapi Bik Wa lebih memilih berjuang dengan keringatnya sendiri daripada harus meminta-minta. Nah, semangat hidupnya itu, bagiku menjadi pelajaran moral nomor satu.
"Gedang goreng... Mi goreng... Belendung... Sawud...". Suaranya cukup nyaring dan lantang di awal-awal dia berangkat berjualan, tapi makin lama dan jauh, suaranya serak dan tak jelas seolah timbul tenggelam. Pun dengan langkahnya, cukup tegas di awal, tapi makin lama dan jauh, langkahnya terseok-seok, tentu karena kelelahan.
"Wa..., Wa..., Wa...!" Aku memanggilnya, karena ingin membeli Sawud, kesukaanku. Sial bagiku, ternyata Bik Wa juga sedikit mengalami gangguan pendengaran. Entah sejak kapan. Tapi kuduga, hal itu karena dia sudak cukup tua. Jika Kita memanggilnya saat tidak sedang berhadapan, maka tidak cukup memanggilnya satu kali, tapi butuh dua, tiga dan seterusnya hingga dia benar-benar menoleh.
Bik Wa menghampiriku, lalu bertanya "Tumbas nopo (beli apa)?" sambil menaruh baskom berisi dagangannya di depanku. Bagiku, Bik Wa adalah tipe orang tua yang patut dihormati. Karena, setiap berbicara dengan mereka yang umurnya jauh lebih muda, Bik Wa selalu memakai krama inggil (strata tertinggi dalam bertutur kata dalam budaya Jawa). Dan, pelajaran moral nomor dua dari Bik Wa: menghargai yang lebih muda.
Bukankah terhadap mereka yang lebih tua, sudah menjadi keharusan bagi setiap yang lebih muda untuk menghormati? Benar sekali. Tetapi tidak sedikit orang tua yang perilakunya jauh lebih brengsek dari yang muda. Apakah orang tua macam itu yang harus dihormati? Aku rasa tidak.
"Sawude tasik wonten (Sawudnya masih ada)?" Aku menjawab pertanyaan Bik Wa dengan pertanyaan juga. "Tasik, tumbas pinten (masih, beli berapa)?" Bik Wa menimpali dan kembali bertanya. Kemudian Aku menjawab sambil iseng menanyakan harga perbungkusnya "Sak pincuk ngeten niki pintenan, Bik Wa (berapa satu bungkusnya, Bik Wa)? "Setunggal ewuan (harganya seribuan)." Akhirnya Aku putuskan untuk membeli lima bungkus saja. "O nggih, kulo tumbas gangsal mawon (baiklah, Saya beli lima bungkus saja)."
Selagi Bik Wa mengambilkan bungkusan Sawud yang Aku beli, Aku mengambil uang di saku Celana. Kebetulan Aku punya uang Rp. 5.000 (lima ribu rupiah). Aku memilih uang itu agar transaksi berjalan efektif dan efisien. Lagipula, Bik Wa tidak harus kerepotan mencari uang kembalian. Lalu uang Rp. 5.000 itu Aku berikan kepadanya.
Reaksi yang ditunjukkan Bik Wa sangat berbanding terbalik dengan orang pada umumnya. Jika orang lain menerima uang itu kemudian mengucapkan terima kasih lalu bergegas pergi melanjutkan jualannya. Bik Wa malah tidak mau menerima uang Rp. 5.000 itu. "Mboten. Sampean ojo nggudo Kulo nggih (Tidak. Anda jangan bercanda ya)! Sontak Aku jadi bingung. "Orang ini maksudnya apa sih?" begitu gumamku.
Belum sempat Aku bertanya, Bik Wa buru-buru menjelaskan persoalannya. "Artone Sampean niku kirang nggih (uangnya kurang)." Bagiku, penjelasan yang Bik Wa sampaikan ini, alih-alih mencerahkanku, malah membuatku jadi pusing. Akhirnya kucoba memperjelas duduk persoalnnya. "Kerin ta Bik Wa, sanjange wau sak pincuk setunggal ewuan. Lha Kulo tumbase gangsal pincuk. Berarti, setunggal ewu ping gangsal, niku enten gangsal ewau. Nggih niki arto gangsal ewau. Leres yoro (Sebentar Bik Wa, katanya satu bungkus harganya seribuan. Aku beli lima bungkus. Berarti seribu dikali lima, sama dengan lima ribu. Ya ini uangnya, lima ribu. Benar kan)?
Aku yakin penjelasanku sudah sangat gamblang, bahkan bagi orang yang memiliki nasib tak pernah mengenyam Pendidikan Dasar sekali pun, seperti Bik Wa. "Mboten. Gangsal ewu niku nggih artone gangsal, mboten namung setunggal ngeten nikai". Bik Wa tiba-tiba nyerocos, benar-benar di luar dugaanku.
Sesaat aku merasakan keheningan yang luar biasa. Seolah semua gaya gerak yang ada di Bumi berhenti dan gaya gravitasi di alam semesta menghilang. Hingga seakan-akan langit pun runtuh bersamaan dengan runtuhnya kepercayaanku pada Bapak Bupati Banyuwangi perihal pencapaian luar biasa dalam Program Gerakan Masyarakat Pemberantasan Tributa -Buta Aksara, Tulis dan Hitung- dan Pengangkatan Murid Putus Sekolah (Gempita Perpus) yang dilakukannya pada awal Tahun 2014 lalu.
Berdasarkan program tersebut, secara statistik jumlah penduduk buta aksara di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2013 mencapai 47.337 jiwa dapat dikurangi sebanyak 35.598 jiwa, hanya dalam waktu lima bulan saja. Sehingga penduduk buta aksara di Kabupaten Banyuwangi hanya tersisa 11.739 jiwa saja atau 0,7% dari total jumlah penduduk Banyuwangi. Berkat program inilah, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mendapatkan penghargaan Anugerah Aksara Madya dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2014.
Anggap saja Bik Wa termasuk salah satu dari 11.739 penduduk yang masih buta aksara tadi. Tapi kali ini Aku tidak ingin menduga beberapa kemungkinan mengapa Bik Wa bisa luput dari perhatian pemerintah setempat pada saat pelaksanaan program tersebut. Boleh jadi, Bik Wa sendiri yang tidak mau diajak mengikuti program pengentasan buta aksara itu.
Baiklah, sepertinya Aku benar-benar harus mengalah untuk mencari uang pecahan seribuan sebanyak lima. Lalu kuberikan uang itu kepada Bik Wa, sambil kuhitung satu persatu di hadapannya. "Niki nggih, mpun leres kan (ini, sekarang sudah benar kan)? "Nggih, mpun leres. Kesuwun (Iya, benar. Terimakasih)". Begitu akhirnya jawaban Bik Wa. Aku pun menutupnya dengan permohonan maaf dan terimakasih.
Bagiku, Bik Wa benar-benar unik. Di jaman yang sudah serba digital seperti ini, masih ada orang yang pemahamannya tentang nominal uang, paling banyak hanya Seribu Rupiah. Lebih dari itu, dia tidak tahu. Akan tetapi, selalu saja ada kelebihan dalam setiap kekurangan. Orang-orang dengan pengetahuan yang terbatas seperti Bik Wa ini, kebanyakan adalah orang-orang yang sangat jujur dan tulus dalam melakukan segala hal. Karena itu, pelajaran moral ketiga yang Aku dapat dari Wa adalah kejujuran dan ketulusan.
Pada suatu Sholat Jumat di awal tahun 2016, di Masjid Babussalam, Dusun Krajan, Desa Blimbingsari, Aku terkejut bukan buatan ketika mendengar Takmir Masjid mengumumkan daftar orang-orang yang bersedekah untuk pembangunan Masjid pada hari itu. "Jariyah selanjutnya, dari Bik Wa sebesar Rp. 100.000. Njenengan tahu kan Bik Wa, yang jualan jajanan keliling itu? Hidup sendirian, serba kekurangan, harus cari nafkah sendiri, dan masih bisa menyisihkan sebagian upah jualannya untuk disedekahkan di Masjid. Ini uang jariyahnya Saya bawa. Terdiri dari pecahan seribuan dan beberapa uang keping lima ratusan." Sambil menahan rasa haru, Bapak Takmir Masjid melanjutkan, "Kalau Bik Wa yang kondisinya seperti itu saja bisa bersedekah, harusnya Kita malu jika Kita yang normal ini masih enggan dan berat untuk bersedekah." Suasana Sholat Jumat menjadi hening. Semua Jamaah terdiam, termasuk Aku.
Dalam diam itu, Aku berpikir, mencoba menghitung secara matematis. Anggap saja upah untuk tiap bungkus jajanan yang Bik Wa jualkan, mendapat Rp. 200. Taruhlah untuk tiap jualan, Bik Wa membawa sebanyak 50 bungkus. Itu artinya, jika setiap kali jualannya habis, maka Bik Wa menerima upah sebesar Rp. 10.000. Bagaimana cara Bik Wa menabung dengan pendapatan kotor hanya Rp. 10.000 hingga memperoleh jumlah Rp. 100.000 untuk disedekahkan di Masjid, itu yang bagiku sulit dilogika.
Memang benar, bahwa Akhirat itu memiliki logika dan matematikanya sendiri. Artinya, jika Kita tidak tulus dalam niat, tidak ikhlas dalam amal, tidak istikomah dalam tekad dan tidak berserah diri kepada Tuhan, maka urusan Akhirat menjadi sulit dan tidak masuk akal. Dan, pelajaran moral terakhir yang Aku dapat dari Bik Wa, adalah berusaha untuk bersedekah, sekali pun dalam masa-masa sulit.
Dari beberapa pelajaran moral yang Aku dapat dari Bik Wa, maka andaikan di Desa Blimbingsari ada pemilihan Perempuan paling menginspirasi tahun 2016 (The Blimbingsari Most Inspiring Woment of The Year), maka pasti Aku merekomendasikan Bik Wa menjadi pemenangnya.

Blimbingsari, 9 Oktober 2016

1 komentar:

  1. Artikel kehidupan berbagai dimensi.... 1 object (bek wa) bisa memberikan seribu makna tentang arti kehidupan yg sebenarnya...
    Trima kasih sahabat... kau mengingatkan kami sbg pembaca agar menghargai arti kehidupan sosial yg sebenarnya

    BalasHapus