Bik Wa
Oleh : Lukman Hadi
Oleh : Lukman Hadi
Sinar Mentari masih cukup terik, meski waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 WIB. Suara Adzan Ashar sedang berkumandang bersahutan, ketika Bik Wa mulai berangkat kerja berjualan jajanan tradisional keliling Kampung.
Wa, begitu dia biasa disapa oleh
warga Dusun Krajan, Desa Blimbingsari. Aku tidak tahu pasti siapa nama
lengkapnya, tapi jelas bukan Marwah Daud Ibrahim, seperti nama tokoh yang saat
ini sedang menjadi perbincangan hangat publik nasional. Umurnya sekira 60an
tahun, sudah cukup tua untuk sekedar berjualan jajanan tradisional keliling
kampung. Dengan tinggi badan yang kurang lebih hanya 115 cm, dia terlihat
sangat mungil saat harus membawa baskom besar berisi jajanan tradisional yang dia
jajakan di atas kepalanya.
Bik Wa harus hidup sebatangkara
karena tak punya siapa-siapa. Entahlah, dulu dia pernah menikah atau dia masih
perawan hingga setua ini, aku benar-benar tidak ingin tahu hal itu. Yang pasti,
karena hidup sendiri, Bik Wa harus mencari nafkah sendiri hampir setiap hari
untuk memastikan esok dapat makan. Meski pun, untuk orang tua seumuran dia,
sudah sepantasnya hari-harinya dihabiskan dengan berdiam diri menikmati masa
tua di rumah dan memperbanyak ibadah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Tapi
Bik Wa lebih memilih berjuang dengan keringatnya sendiri daripada harus
meminta-minta. Nah, semangat hidupnya itu, bagiku menjadi pelajaran moral nomor
satu.
"Gedang goreng... Mi goreng...
Belendung... Sawud...". Suaranya cukup nyaring dan lantang di awal-awal
dia berangkat berjualan, tapi makin lama dan jauh, suaranya serak dan tak jelas
seolah timbul tenggelam. Pun dengan langkahnya, cukup tegas di awal, tapi makin
lama dan jauh, langkahnya terseok-seok, tentu karena kelelahan.
"Wa..., Wa..., Wa...!" Aku
memanggilnya, karena ingin membeli Sawud, kesukaanku. Sial bagiku, ternyata Bik
Wa juga sedikit mengalami gangguan pendengaran. Entah sejak kapan. Tapi kuduga,
hal itu karena dia sudak cukup tua. Jika Kita memanggilnya saat tidak sedang
berhadapan, maka tidak cukup memanggilnya satu kali, tapi butuh dua, tiga dan
seterusnya hingga dia benar-benar menoleh.
Bik Wa menghampiriku, lalu bertanya
"Tumbas nopo (beli apa)?" sambil menaruh baskom berisi dagangannya di
depanku. Bagiku, Bik Wa adalah tipe orang tua yang patut dihormati. Karena,
setiap berbicara dengan mereka yang umurnya jauh lebih muda, Bik Wa selalu
memakai krama inggil (strata tertinggi dalam bertutur kata dalam budaya Jawa). Dan,
pelajaran moral nomor dua dari Bik Wa: menghargai yang lebih muda.
Bukankah terhadap mereka yang lebih
tua, sudah menjadi keharusan bagi setiap yang lebih muda untuk menghormati?
Benar sekali. Tetapi tidak sedikit orang tua yang perilakunya jauh lebih brengsek
dari yang muda. Apakah orang tua macam itu yang harus dihormati? Aku rasa
tidak.
"Sawude tasik wonten (Sawudnya
masih ada)?" Aku menjawab pertanyaan Bik Wa dengan pertanyaan juga.
"Tasik, tumbas pinten (masih, beli berapa)?" Bik Wa menimpali dan kembali
bertanya. Kemudian Aku menjawab sambil iseng menanyakan harga perbungkusnya
"Sak pincuk ngeten niki pintenan, Bik Wa (berapa satu bungkusnya, Bik Wa)?
"Setunggal ewuan (harganya seribuan)." Akhirnya Aku putuskan untuk
membeli lima bungkus saja. "O nggih, kulo tumbas gangsal mawon (baiklah, Saya
beli lima bungkus saja)."
Selagi Bik Wa mengambilkan bungkusan
Sawud yang Aku beli, Aku mengambil uang di saku Celana. Kebetulan Aku punya
uang Rp. 5.000 (lima ribu rupiah). Aku memilih uang itu agar transaksi berjalan
efektif dan efisien. Lagipula, Bik Wa tidak harus kerepotan mencari uang
kembalian. Lalu uang Rp. 5.000 itu Aku berikan kepadanya.
Reaksi yang ditunjukkan Bik Wa sangat
berbanding terbalik dengan orang pada umumnya. Jika orang lain menerima uang
itu kemudian mengucapkan terima kasih lalu bergegas pergi melanjutkan
jualannya. Bik Wa malah tidak mau menerima uang Rp. 5.000 itu. "Mboten.
Sampean ojo nggudo Kulo nggih (Tidak. Anda jangan bercanda ya)! Sontak Aku jadi
bingung. "Orang ini maksudnya apa sih?" begitu gumamku.
Belum sempat Aku bertanya, Bik Wa
buru-buru menjelaskan persoalannya. "Artone Sampean niku kirang nggih
(uangnya kurang)." Bagiku, penjelasan yang Bik Wa sampaikan ini, alih-alih
mencerahkanku, malah membuatku jadi pusing. Akhirnya kucoba memperjelas duduk
persoalnnya. "Kerin ta Bik Wa, sanjange wau sak pincuk setunggal ewuan.
Lha Kulo tumbase gangsal pincuk. Berarti, setunggal ewu ping gangsal, niku
enten gangsal ewau. Nggih niki arto gangsal ewau. Leres yoro (Sebentar Bik Wa,
katanya satu bungkus harganya seribuan. Aku beli lima bungkus. Berarti seribu
dikali lima, sama dengan lima ribu. Ya ini uangnya, lima ribu. Benar kan)?
Aku yakin penjelasanku sudah sangat
gamblang, bahkan bagi orang yang memiliki nasib tak pernah mengenyam Pendidikan
Dasar sekali pun, seperti Bik Wa. "Mboten. Gangsal ewu niku nggih artone
gangsal, mboten namung setunggal ngeten nikai". Bik Wa tiba-tiba nyerocos,
benar-benar di luar dugaanku.
Sesaat aku merasakan keheningan yang
luar biasa. Seolah semua gaya gerak yang ada di Bumi berhenti dan gaya
gravitasi di alam semesta menghilang. Hingga seakan-akan langit pun runtuh
bersamaan dengan runtuhnya kepercayaanku pada Bapak Bupati Banyuwangi perihal
pencapaian luar biasa dalam Program Gerakan Masyarakat Pemberantasan Tributa
-Buta Aksara, Tulis dan Hitung- dan Pengangkatan Murid Putus Sekolah (Gempita
Perpus) yang dilakukannya pada awal Tahun 2014 lalu.
Berdasarkan program tersebut, secara
statistik jumlah penduduk buta aksara di Kabupaten Banyuwangi pada tahun 2013
mencapai 47.337 jiwa dapat dikurangi sebanyak 35.598 jiwa, hanya dalam waktu
lima bulan saja. Sehingga penduduk buta aksara di Kabupaten Banyuwangi hanya
tersisa 11.739 jiwa saja atau 0,7% dari total jumlah penduduk Banyuwangi.
Berkat program inilah, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mendapatkan penghargaan
Anugerah Aksara Madya dari Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2014.
Anggap saja Bik Wa termasuk salah
satu dari 11.739 penduduk yang masih buta aksara tadi. Tapi kali ini Aku tidak
ingin menduga beberapa kemungkinan mengapa Bik Wa bisa luput dari perhatian
pemerintah setempat pada saat pelaksanaan program tersebut. Boleh jadi, Bik Wa
sendiri yang tidak mau diajak mengikuti program pengentasan buta aksara itu.
Baiklah, sepertinya Aku benar-benar
harus mengalah untuk mencari uang pecahan seribuan sebanyak lima. Lalu
kuberikan uang itu kepada Bik Wa, sambil kuhitung satu persatu di hadapannya.
"Niki nggih, mpun leres kan (ini, sekarang sudah benar kan)? "Nggih,
mpun leres. Kesuwun (Iya, benar. Terimakasih)". Begitu akhirnya jawaban
Bik Wa. Aku pun menutupnya dengan permohonan maaf dan terimakasih.
Bagiku, Bik Wa benar-benar unik. Di
jaman yang sudah serba digital seperti ini, masih ada orang yang pemahamannya
tentang nominal uang, paling banyak hanya Seribu Rupiah. Lebih dari itu, dia
tidak tahu. Akan tetapi, selalu saja ada kelebihan dalam setiap kekurangan.
Orang-orang dengan pengetahuan yang terbatas seperti Bik Wa ini, kebanyakan
adalah orang-orang yang sangat jujur dan tulus dalam melakukan segala hal.
Karena itu, pelajaran moral ketiga yang Aku dapat dari Wa adalah kejujuran dan
ketulusan.
Pada suatu Sholat Jumat di awal tahun
2016, di Masjid Babussalam, Dusun Krajan, Desa Blimbingsari, Aku terkejut bukan
buatan ketika mendengar Takmir Masjid mengumumkan daftar orang-orang yang
bersedekah untuk pembangunan Masjid pada hari itu. "Jariyah selanjutnya,
dari Bik Wa sebesar Rp. 100.000. Njenengan tahu kan Bik Wa, yang jualan jajanan
keliling itu? Hidup sendirian, serba kekurangan, harus cari nafkah sendiri, dan
masih bisa menyisihkan sebagian upah jualannya untuk disedekahkan di Masjid.
Ini uang jariyahnya Saya bawa. Terdiri dari pecahan seribuan dan beberapa uang
keping lima ratusan." Sambil menahan rasa haru, Bapak Takmir Masjid
melanjutkan, "Kalau Bik Wa yang kondisinya seperti itu saja bisa
bersedekah, harusnya Kita malu jika Kita yang normal ini masih enggan dan berat
untuk bersedekah." Suasana Sholat Jumat menjadi hening. Semua Jamaah
terdiam, termasuk Aku.
Dalam diam itu, Aku berpikir, mencoba
menghitung secara matematis. Anggap saja upah untuk tiap bungkus jajanan yang
Bik Wa jualkan, mendapat Rp. 200. Taruhlah untuk tiap jualan, Bik Wa membawa
sebanyak 50 bungkus. Itu artinya, jika setiap kali jualannya habis, maka Bik Wa
menerima upah sebesar Rp. 10.000. Bagaimana cara Bik Wa menabung dengan
pendapatan kotor hanya Rp. 10.000 hingga memperoleh jumlah Rp. 100.000 untuk
disedekahkan di Masjid, itu yang bagiku sulit dilogika.
Memang benar, bahwa Akhirat itu
memiliki logika dan matematikanya sendiri. Artinya, jika Kita tidak tulus dalam
niat, tidak ikhlas dalam amal, tidak istikomah dalam tekad dan tidak berserah
diri kepada Tuhan, maka urusan Akhirat menjadi sulit dan tidak masuk akal. Dan,
pelajaran moral terakhir yang Aku dapat dari Bik Wa, adalah berusaha untuk
bersedekah, sekali pun dalam masa-masa sulit.
Dari beberapa pelajaran moral yang
Aku dapat dari Bik Wa, maka andaikan di Desa Blimbingsari ada pemilihan
Perempuan paling menginspirasi tahun 2016 (The Blimbingsari Most Inspiring Woment
of The Year), maka pasti Aku merekomendasikan Bik Wa menjadi pemenangnya.
Blimbingsari, 9 Oktober 2016
Blimbingsari, 9 Oktober 2016






Artikel kehidupan berbagai dimensi.... 1 object (bek wa) bisa memberikan seribu makna tentang arti kehidupan yg sebenarnya...
BalasHapusTrima kasih sahabat... kau mengingatkan kami sbg pembaca agar menghargai arti kehidupan sosial yg sebenarnya